Gambaran Umum Ekonomi Masyarakat Kapeso di Danau Rombebay

1770946587199.jpg

Kampung Kapeso merupakan salah satu kampung yang berada di tepian Danau Rombebay, Kabupaten Mamberamo Raya. Secara sosial budaya, masyarakat Kapeso masih sangat kuat mempertahankan tradisi, termasuk sistem kepemimpinan adat berbasis marga serta pola hidup yang bergantung pada alam. Dengan jumlah penduduk sekitar 151 jiwa dan 45 kepala keluarga, masyarakat memanfaatkan sumber daya hutan dan danau sebagai penopang utama kehidupan. Sagu, ikan, serta hasil buruan menjadi fondasi ekonomi rumah tangga sekaligus sumber pangan utama sehari-hari.

Sebagai masyarakat yang hidup di wilayah perairan, aktivitas menangkap ikan menjadi mata pencaharian paling dominan. Danau Rombebay menyediakan berbagai jenis ikan seperti mujair, gabus, sembilan, hingga udang dan kura-kura. Hasil tangkapan tidak hanya untuk konsumsi keluarga, tetapi juga dijual dalam bentuk ikan segar maupun ikan asin ke pasar-pasar lokal seperti Trimuris dan Kasonaweja. Dalam sekali produksi, nelayan dapat mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp185.000 untuk bahan bakar, rokok, dan kebutuhan teknis lainnya. Meski masih menggunakan alat tangkap tradisional, hasilnya mampu memenuhi kebutuhan ekonomi dasar masyarakat.

Selain perikanan, masyarakat Kapeso juga menggantungkan hidup pada aktivitas meramu sagu, berburu, serta berkebun dalam skala kecil. Tanaman seperti pisang, singkong, keladi, dan pinang mulai dikembangkan sebagai sumber pendapatan tambahan. Beberapa keluarga bahkan mulai membudidayakan pinang dalam jumlah lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal yang selama ini dipasok dari luar daerah. Potensi perkebunan lain seperti coklat dan buah merah juga tersedia, namun belum dikelola secara maksimal akibat keterbatasan perawatan dan akses pemasaran.

Di sisi lain, potensi ekonomi Kampung Kapeso juga didukung oleh keberadaan infrastruktur dasar seperti pelabuhan sungai tradisional, lapangan terbang, sekolah dasar, puskesmas pembantu, serta sumber listrik dari genset dan solar cell. Namun akses transportasi masih menjadi tantangan utama karena jarak tempuh menuju pusat pasar memerlukan waktu 5–8 jam perjalanan dengan perahu bermotor dan konsumsi bahan bakar yang cukup besar. Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap biaya distribusi hasil produksi masyarakat.

Secara keseluruhan, potensi ekonomi Kampung Kapeso sangat besar, terutama pada sektor perikanan dan sumber daya alam berbasis ekologi danau serta hutan sagu. Tantangan utama yang dihadapi adalah tata niaga, akses pasar, serta pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Dengan strategi pemberdayaan yang tepat, termasuk penguatan transportasi dan sistem pemasaran, masyarakat Kapeso memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan Danau Rombebay sebagai sumber kehidupan utama mereka.

Bagikan post ini: